Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tugas Kuliah’ Category

Critical Review :

Community Driven Development, Collective Action and Elite Capture in Indonesia

Oleh : Patta Hindi Asis

TULISAN INI bermaksud menanggapi tulisan Aniruddha Dasgupta dan Victoria A. Beard dengan judul Community Driven Development, Collective Action and Elite Capture in Indonesia. Yang merupakan hasil riset dari beberapa komunitas di Jawa Timur dan Jawa Barat yang menjadi fokus dari program pengentasan kemiskinan pedesaan dan perkotaan dengan nama Urban Poverty Project (UPP). Program UPP ini adalah salah satu upaya penanggulangan kemiskinan dengan berdasarkan penguatan kelembagaan lokal.

Tulisan ini kemudian menyarikan kondisi kekinian di wilayah tersebut bahwa pembangunan mengalami perubahan yang memerlukan upaya pendekatan keterlibatan lokal sebagai perencana utama sekaligus sebagai respon atas kelemahan pendekatan top-down yang dilakukan pemerintah di masa orde baru. Hal ini diimplementasikan dalam bentuk proses pembangunan yang lebih terdesentralisasi, mengaplikasikan perencanaan yang berbasiskan komunitas, serta menerapkan metode partisipatoris dalam memonitor dan mengevaluasi program.

Program ini melahirkan peruwujudan konsep pembangunan berbasis komunitas (community-driven development). Kunci keberhasilan pendekatan ini adalah kapasitas komunitas untuk menjalankan tindakan-tindakan kolektif (collective action). Didasarkan atas objek tersebut, tulisan Dasgupta & Beard melakukan mengembangkan satu konsep yang komprehensif dalam kerangka teoritis untuk memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi tindakan kolektif di masyarakat.

Penelitian dilakukan di beberapa desa di Malang (Kelor, Tirta Kencana, Kisma Wasana) dan Bandung (Sekar Kemulyan). Seleksi lokasi sebagai studi kasus komunitas dilakukan secara purposif dan ilustratif. Keempat komunitas studi kasus dipilih dengan merepresentasikan berbagai perbedaan karaktersitik untuk menggambarkan kompleksitas tiap tempat. Penelitian ini terdiri dari lokasi yang berbentuk komunitas desa, dan komunitas perkotaan (sub-urban).

Riset ini mengangkat beberapa tesis, yaitu bahwa ada kapasitas yang lebih besar pada masyarakat pedesaan untuk mewujudkan tindakan kolektif, dan khusus di wilayah perkotaan tindakan kolektif lebih berpotensi untuk menjadi sebuah transformasi sosial. Dua tesis ini lalu dipilah menjadi beberapa pertanyaan yaitu: Bagaimana perbedaan ciri kolektifitas (“rukun”) antara komunitas di pedesaan dan di perkotaan ? kemudian, Bagaimana perbedaan dalam heterogenitas sosial ekonomi, ukuran populasi, relasi sosial, serta keberadaan ideologi komunitas mempengaruhi modal sosial dan kemampuan untuk mewujudkan tindakan kolektif di komunitas pedesaan dan perkotaan Bagaimana perbedaan tindakan kolektif di komunitas pedesaan dengan sub urban?

Sistematisnya, tulisan Dasgupta & Beard berupaya memberi pandangan tentang pemberdayaan dengan berbasiskan komunitas dan berusaha mengintrodusir dari pengalaman-pengalaman (lesson learned) yang sudah diterapkan di Indonesia : Kelor, Tirta Kencana, Sekar Kamulyan dan Kisma Wasana. Secara ringkas, tulisan diawali dengan menggambarkan hasil penelitian di beberapa tempat dengan beragam pengaruh elit. Pertama, Kelor. Dimana dominasi elit nampak dalam konteks perencanaan dari proses pembangunan dan demokrasi. Kedua, Tirta Kencana, dalam lingkup yang lebih luas, wilayah ini masih di dominasi elit. Kasus ketiga, Sekar Kemulyan. Daerah sub-urban ini sejarah panjang dominasi elit, namun sejak era desentralisasi redistribusi kekuasaan mulai nampak. Kasus keempat, Kisma Wasana, tidak ada yang mendominasi, jutru alokasi sumber daya terdistribusi di tiap-tiap kelompok.

Temuan dan gagasan penting

Hasil penelitian Dasgupta & Beard ini menemukan bahwa tindakan kolektif di level komunitas menjadi bagian yang bersifat beragam akibat dari faktor-faktor sosial, politik dan sejarah baik dari sisi internal maupun eksternal dari komunitas yang bersangkutan. Tesis penelitian ini juga menemukan adanya dua bentuk berbeda-beda dari tiap tempat untuk terwujudnya tindakan kolektif.

Bentuk pertama didasarkan pada daya kohesi komunitas, relasi sosial yang stabil, dalam kasus lain berkaitan erat dengan hierarki yang berdasar sosial. Bentuk kedua adalah tindakan kolektif yang didasarkan atas adanya saling percaya dalam relasi yang saling tergantung terhadap masa depan dan harapan untuk akan tercapainya perubahan politik dan struktural. Bentuk kedua ini diyakini lebih berpotensi untuk mencapai transformasi sosial yang diharapkan dari pelaksanaan program pemberdayaan komunitas. Ada faktor yang mendukung tindakan kolektif menuju transformasi sosial. Dominasi elit lokal atas sumber daya dan ketidakpuasan terhadap sistem perencanaan di level komunitas dan pemerintahan. Ketakpuasan ini berasal dari persepsi bahwa elit lokal telah melakukan korupsi sehingga tidak dapat dipercaya untuk mendistribusikan sumberdaya. Hal lain adalah proses politisasi penduduk dan grup-grup komunitas.

Penelitian ini mengatakan, pencapaian pembangunan yang berbasiskan komunitas berkaitan dengan kapasitas komunitas dalam menjalankan tindakan secara kolektif. Untuk berhasilnya program, maka pelaksana program semestinya mempelajari kapasitas setiap komunitas untuk menjalankan tindakan kolektif. Fasilitator harus menjalankan program dengan partisipatif untuk membantu komunitas mengidentifikasi isu kolektif dan merumuskan apa visi untuk masa depan mereka. Temuan lain adalah, dimana banyak konflik dan perebutan kepentingan, maka program berskala kecil akan lebih tepat.

Secara garis besarnya, program pemberdayaan berbasiskan komunitas (community-driven development projects) seyogyanya disusun dalam bentuk yang fleksibel, sehingga fasilitator program dapat mengidentifikasi dan berkerja dengan kelompok-kelompok dan stakeholders dengan lebih baik.

Penutup

Hasil penelitian Dasgupta & Beard memang layak diapresiasi sebagai bagian dari riset akademik. Dengan data yang disajikan begitu banyak dan pemaparan yang bernas membuat seolah-olah program urban poverty program (UPP) ini menjadi jawaban atas masalah pembangunan komunitas di Indonesia.

Dari masalah ini kemudian menimbulkan pertanyaan, sejauh mana tesis ini mampu memberikan jawaban atau ‘garansi’ atas masalah pemberdayaan pada komunitas desa atau kota ?. Dalam akhir tulisan Dasghupta & Beard secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa upaya yang dilakukan Bank Dunia dengan program UPP penting untuk didukung karena bermanfaat bagi proses transformasi menuju masyarakat yang demokratis. Bisa ditebak bahwa Dasghupta & Beard memberi ‘garansi’ bahwa program UPP bermanfaat dalam pembangunan komunitas.

Namun tulisan ini bukan tanpa kekurangan, alih-alih program UPP menjadi solusi dalam proses demokratisasi dan pemberdayaan komunitas. Riset ini cenderung sekedar mengektraksi dan menghilangkan peran aktor yang terlibat dalam program dalam hal ini akar rumput (grass root). Yang dengan bahasa sederhanyanya berperan sebagai ‘fasilitator’ saja bagi program pemberdayaan yang dilakukan Bank Dunia. Pengalaman penulis melihat program pemberdayaan masyarakat semisal P2KP atau PNPM, fasilitator terlihat sangat dominan dan hanya menampakkan ‘kebaikan’ program dalam bentuk laporan sederhana. Tidak lain sekedar menyenangkan pendonor untuk keberlanjutan program berikutnya. Nampak adanya agenda terselubung (hidden agenda) yang kemudian manfaatnya kurang dirasa masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, di daerah lain semisal di Sulawesi Selatan, peran elit sangat dominan dalam menentukan dan membagi-bagi sumber daya. Tidak heran program pemberdayaan berbasis komunitas tidak pernah lepas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa setiap riset-riset yang dilakukan peneliti dari luar Indonesia punya keterkaitan terhadap program-program yang dilakukan lembaga donor. Riset-riset berskala global tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan global pula. Riset Dasghupta & Beard ini memang menjelaskan kondisi “apa adanya” tapi dibalik itu bisa jadi “ada apa-apanya”. Riset ilmiah yang diimpor dari Dasghupta & Beard ini belum dikaji lebih mendalam dan disesuaikan dengan daerah lain di Indonesia. Oleh sebab itu, riset ini patut ‘dicurigai’ dan dipertanyakan kembali.

***

Read Full Post »

Older Posts »