Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2012

Sarinah

RAMBUTNYA terurai panjang, kulitnya gelap tapi manis, giginya ginsu, hidugnya bangir dan bicaranya pelan. Saya pernah sebangku di kelas. Jika Dia juara satu saya yang juara dua atau jika saya juara dua Dia tetap juara satu dan kadang Dia juara satu saya malah tak dapat rangking. begitu seterunya. Dia adalah perempuan desa tapi kecantikannya sebagai perempuan kecil selalu memesona.

Itu dulu, dulu sekali malah. Terkenang masih SD waktu itu. Saya dan Sarinah berpisah saat akan berajak kelas tiga SD. Saya bermigrasi ke Kendari Sulawesi Tenggara–tidak hanya pindah tempat tapi pindah sekolah. Akhirnya Sarinah, teman sebangku saya berpisah. Saya tak sempat mengucapkan salam perpisahan sebagai teman sebangku juga teman sekampung. Mungkin karena preferensi saya kurang. Tidak seperti di filem-filem atau sinetron dimana anak kecil sudah mampu mengungkap perasaan sedihnya berpisah. Saya tak punya itu. akhirnya berpisah tanpa say good bye. sampai sekarangpun tak pernah bertemu teman sebangku itu. Cerita kecil yang tak tergantikan.

Akhirnya, kami pisah. Kabar terlalu sulit datangnya kini.

Saya tahu, setiap tempat ada ribuan bahkan jutaan kenangan dan saya tak sendiri merasakan itu

Saya tak ingin beranjak dalam romansa sekolah, apalagi tentang Sarinah, takut jadinya galau. tapi tak ngeh rasanya tidak menyebut Sarinah yang satu lagi, sosok yang selalu dibanggakan oleh Putra Sang Fajar: Sukarno.

Sukarno sadar, tanpa perjuangan Sarinah (baca:perempuan-perempuan) ia tak ada apa-apanya. Sarinah adalah sumber ilham baginya. Dalam perjuangan nasional sosok Sarinah tak bisa dilupakan begitu saja. seperti kata Vladimir Lenin “jikalau tidak dengan perempuan kemenangan mungkin tak mungkin kita capai”. Perjuangan apapun itu perempuan selalu ada dibaliknya. Mungkin tak asing ditelinga ketika seorang selalu berkata dibalik keberhasilan laki-laki ada sosok perempuan dibelakangnya.

Dan Sarinah hanyalah satu ‘narasi kecil’ Bung Karno yang ditulisnya ketika di Yogyakarta. buku Sarinah lahir atas ketulusan seorang perempuan mengasuh dengan sabar seorang proklamator bangsa itu. Dalam pengantarnya, Sukarno menulis:

“Apa sebab saya namakan kitab ini “Sarinah”? Saya namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saya ketika masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya banyak mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiripun “orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar!

Kita sudah bisa tebak, Sarinah adalah nama kampung[an] bukan nama gaul. Berbeda dengan nama nama-nama kota, sebut saja, Nayla, Nasya, Annisa dan sebagainya. Ia perempuan biasa dan latar belakang yang kampungan tentu hanya berkutat pada sawah, dapur dan mungkin jadi pembantu-pembantu. Namun ada kisah heroik yang ditampilkan disini. Seperti kisah Sarinah-nya Sukarno. Mungkin heroik itu bisa didefenisikan sederhana adalah memberi. Sarinah adalah contoh sederhana perempuan Indonesia (dulu). Sabar, sederhana, polos, dan apa adanya. Perempuan seperti dia adalah segala ilham.

Kisah Dia memang berjarak

Saya hanya ingin menautkan cerita kenangan Sarinah milik saya dengan Sarinah milik Sukarno. ada banyak perbedaan saya pikir atau bisa disebut tak sebanding, seharusnya apple to apple. apapun itu, jika ada persamaan adalah karena sama-sama perempuan dari kampung. Dan tentu gambaran kebersahajaan Sarinah-Sukarno ingin saya replikasi untuk Sarinah teman kecil saya, diamanapun dia berada.

Inilah kisah yang bertaut, beda masa, satu nama: Sarinah. Kisah Sarinah ternyata mengajar saya lebih banyak daripada buku-buku yang selama ini saya baca

Read Full Post »

–ketika memberi bersiaplah melupakan

ADAKAH pemberian benar-benar tulus? Bagi Derrida, memberi bisa menjadi masalah. Semua patut dicurigai.

Bermula dari essai Marcel Mauss tentang Potlatch Derrida mulai memperingatkan tentang pemberian. Konsep Potlacth adalah sebuah kebiasaan memberi dalam suku Malenesia [di Indonesia bisa disebut sumbangan]. Potlatch sendiri sebagai mana ungkapan Romo Haryatmoko dalam sebuah kuliah umum di gedung lengkung itu adalah kebiasaan memberi dan menerima yang tak kunjung henti, dan begitu seterusnya yang menjadi kekhasan suku Malenesia. Dalam hal ini sistem pemberian yang diperturkarkan. Untuk mengantar esai Mauss, saya mengutip esai itu yang dikutip Romo (pemberian, hal 197-199):
 
Di Malenesia, kita telah menyaksikan bahwa pemberian-pemberian berputar pada keyakinan bahwa pemberian-pemberian itu akan dikembalikan dengan jaminannya. Jaminannya ialah keutamaan yang dari hal yang memberikan. Dalam setiap masyarakat, wajar bila hakekat pemberian itu mengikat kewajiban dengan tenggat ‘waktu’ tertentu…
 
[Mauss yang sadar tentang pentingnya waktu pemberian agaknya meletakkan ‘waktu’ sebagai unsur penting dalam pemberian tapi menjadi masalah bagi Derrida karena tetap mengharap imbalan]

Memberi sebenarya mengandung konotasi positif berhubung dengan sesuatu yang baik, saleh, dermawan, murah hati yang sumber segala kemahalimpaan hidup. sampai-sampai dalam kekuranganpun orang rela memberi. Sifat alturisme menjadi lazim dilakukan sebagai wujud kepedulian sosial.

Apa yang salah disini? Menggunakan Dekonstruksi ala Derrida. Apa gunanya mempertanyakan sesuatu yang baik (memberi) padahal tidak ada masalah disitu karena mengandung kebaikan hati? Bagi Derrida pemberian itu virus. Alasannya jika sesuatu pemberian yang mengharapkan imbalan seperti halnya ucapan, tanda jasa, terimakasih, pujian akhirnya meniadakan keutamaan pemberian.

Tidak ada sesuatu di luar. Melalui dekontruksi Derrida mengurai hal ihwal pemberian ini (yang tentu mengerti struktur bahasanya). Derrida yang membaca esai Mauss ‘esai tentang pemberian’ mengkiritisi konsep potlacth ini. Dengan memulai dengan sebuah pertayaan masihkah disebut memberi jika pada pemberian masuk dalam lingkaran—memberi-menerima, terimakasih, utang-melunasi, balas jasa, ingatan, simbol ungkapan lainnya? Baginya memberi tidak ada harapan akan dikembalikan ke pemberi dalam apapun. Meminjam—Romo Haryatmoko—jika memberi anggaplah itu tak dibalas (pentingnya melupakan).

Haryatmoko menambahkan, ketika terjadi pemberian, rasa terimakasih tidak akan pernah menggantikan secara memadai pemberian itu. Namun, begitu penerima mengucapkan terimakasih, ia meniadakan pemberian itu dengan menawarkan sesuatu yang setara. Disini terjadi lingkaran yang melingkupi pemberian dalam bentuk gerak untuk memiliki kembali. Namun pernytaan Derrida ini bisa saja ditolak atau tidak lagi bermkna ketika seseorang menggunakan motif ekonomi. Memberi harus juga menerima, disitu prinsi keadilannya. Ketika orang sudah menggunakan motif ekonomi maka Derrida bisa saja tak dapat dipakai.

Kembali ke Derrida, bentuk kegialaan dari memberi adalah melupakan. “Lupa” tidak dikaitkan dengan lupa ingatan namun melupakan sengaja secara sadar. Melupakan bahwa telah terjadi pemberian dan melupakan bahwa telah memberi anggap sebagai suatu kelupaan. Yang menjadi masalah kemudian bahwa pemberian juga mengandung kekuasaan. Goffman dalam teori pertukarannya mengganggap bahwa semakin sering orang diberi semakin seseorang merasa ketergantungan pada si pemberi. Sulitnya membedakan sekarang adalah apakah pemberian menandung nalar ekonomi atau nalar sosial. Tapi disini pentingnya bahwa pemberian tidak pernah lepas dari motif. Derrida mencoba berkata jika memberi kita harus benar-benar lupa bahwa kita pernah memberi.

Sampai sekarang saya masih sulit untuk melupakan kebiasaan saya mengingat pemberian selama apapun itu. bagaimana dengan anda sahabat? 🙂

Read Full Post »

Masyarakat kita sekarang hidup di zaman kekerasan. memandang realitas, kekerasan menggejala dimana-mana, menguras energi yang mewujud pada kekerasan fisik, juga psikologis. Saban hari di media (cetak dan elektronik) kini banyak bermuatan berita kekerasan. Di keluarga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan antar pendukung pilkada, kekerasan antar mahasiswa, kekerasan antar suporter bola, kekerasan antar keyakinan, kekerasan antar kampung sampai kekerasan yang melibatkan negara.

Gandhi mengingatkan kekerasan adalah tanda akhir dari peradaban manusia. Namun anehnya sebagian kita suka dengan kekerasan. Kekerasan sering terjadi namun sedikit nada untuk membuka ruang diskursus (jika boleh di kata tidak ada) yang hadir di warung kopi, sekolah, hingga kampus. Padahal kekerasan menjadi arena yang selalu hadir disetiap ruang.

Kekerasan walaupun hidup dengan manusia namun untuk mengartikan kekerasan meninggalkan banyak pertanyaan sehingga menjawabnya pun sulit. term ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik desa maupun kota, baik berskala kecil maupun besar. Tak dapat terhitung lagi berapa kerugian materi dan non-materi akibat kekerasan. Memori kolektif belum hilang ketika kekerasan terjadi di kampus, sebagai misal. Kerugian tak bisa dibilang sedikit.

Untuk hal ini kekerasan lahir ketika show of force (penunjukkan kekuatan). Kekerasan selalu menunjukkan kekuatan (massa, senjata). Adalah Hannah Arendt yang memasuki arena kekerasan sebagai subjek utama. Filsuf Amerika kelahiran Jerman ini memberi pemahaman bahwa kekerasan itu tidak pernah bisa legitim namun kadang dibenarkan, kekerasan yang dibenarkan jika, pertama, kekerasan sebagai respon ketidakadilan, kedua, kekerasan dibenarkan jika memungkinkan membuka ruang politik.

Kekerasan terjadi menurutnya karena manusia kehilangan rasionalitasnya (irrasional). Sederhanya, manusia melakukan kekerasan jika kehilangan cara berfikir jernih yang mengakibatkan manusia kehilanghan kendali dan akhirnya emosional. Beragam bentuk kekerasan dalam masyarakat, mulai teror, konflik komunal, diskriminasi, bahkan kekerasan penguasan (pemerintah) pada rakyatnya. Walau kekerasan abad ini tidak lebih besar dari zaman penjajahan di Indonesia beberapa abad silam (Belanda dan Jepang), kemudian berlanjut hingga orde baru, namun kekerasan seolah-olah menjadi jalan keluar masyarakat yang katanya ramah, santun dan berbudaya.

Krisis Solidaritas

Boleh dikata, krisis solidaritas terjadi karena globalisasi. Paradoks yang dibawanya menghilangkan sisi manusia memandang dunia yang lain. Ruang-ruang sosial menjadi sempit dan melahirkan segregasi yang berbasis etnisitas, dan identitas kelompok. Cara pandang “insider” dan “ousider” selalu hadir dalam sentimen berdasarkan identitas.

Pesona globalisasi telah diikuti dengan nilai-nilai yang memudar. Paling tidak nilai humanisme terganti menjadi dehumanisasi. Globalisasi disatu sisi memang dirayakan, namun disisi lain harus ditangisi, paling tidak pemaknaan atas relasi-relasi sosial yang merenggang. Hal ini bukan tanpa sebab karena globalisasi telah memasuki ruang-ruang yang jauh di masyarakat yang dulunya dianggap “terlarang” semisal seni, budaya, norma dan cara hidup masyarakat.

Bersangkut dengan globalisasi itu, beberapa hal mengapa kekerasan terjadi, pertama, perkembangan manusia ditandai dengan sikap dilema dalam hidup. Mengutip pemikir Edwar Said, dalam tesisnya Orientalisme (2010), menyinggung bahwa perkembangan manusia tengah dilanda oleh kegagalan dan frustasi. Dewasa ini dalam konteks ber-masyarakat terjadi ketidakpastian dalam kondisi sosial, ketimpangan ekonomi serta pereduksian pemaknaan agama, identitas yang akhirnya memicu kekerasan.

Kedua, jika negara dan perangkat-perangkatnya gagal melindungi rakyat. Lemahnya negara juga diikuti dengan menguatnya gerakan-gerakan radikal yang akhirnya menimbulkan kekerasan. Kondisi ini telah membuka kesadaran sekaligus respon atas globalisasi. Kondisi ini disebut meminjam istilah Sindhunata, dilema globalisasi.

Ada orang yang mengatakan prilaku kekerasan dekat dengan kebodohan (sebagai catatan, kebodohan tidak diidentikkan dengan rendahnya pendidikan), karena kekerasan terjadi ketika manusia kehilangan kecerdasannya. Walau istilah itu terkesan sarkastik, hal ini bisa menjadi konfimasi betulkah kita tidak cerdas sehingga mau saja melakukan kekerasan ?.

Read Full Post »

“tubuh adalah penjara/makam jiwa – Plato”
“tubuh manusia dapat dianggap sebuah mesin – Descartes”
“Tubuh adalah saya…saya adalah tubuh – Sartre”

kehadiran wacana tubuh itu menjelma di buku Antony Sinnot, Tubuh Sosial; Simbolisme, Diri dan Masyarakat. Tentu wacana tubuh tak hanya dibahas Synnott saja, teoritis feminis tak ketinggalan mengambil bagian dalam wacana ini, juga Michel Faucault dalam wacana kekuasaan yang menyinggung kekuasaaan atas tubuh.

Buku Synnott yang berlapis-lapis merentang 476 halaman itu memahamkan kita bahwa tubuh bukan hanya fenomena biologis, ia juga diciptakan masyarakat yang sangat rumit. Yang mengatakan tubuh menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. soal kecantikan, ketidakmenarikan, tinggi badan, berat badan menjadi simbol dalam hidup.

tubuh tak hanya sekedar seonggok daging, dia memiliki muatan-muatan simbolis dan kultural-bibir, mata, hati, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktru tubuh gtapi dibalik itu bermain dalam ide dan citra-citra.

eksplorasi atas tubuh ini bergeser di segala zaman. cara manusia memberlakukan tubuh (nya) tak mempengaruhi cara berfikir dan menjalani hidup dan kematian. saya teringat lagi Film The Black Swan yang diperankan Natalie Portman, bagemana ia memperlakukan tubuhnya seperti bukan dirinya.

tubuh merupakan mozaik yang rumit kata Foucault. tubuh tak sekedar metafora, tapi juga representasi kekuasaan. fenomena tubuh sosial bukan pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kekuasaan. kerumitan ini pun membuat tak mengerti bentuk ideal yang diinginkan tapi merasa tak cukup. serasa ada yang kurang, begitu seterusnya dan akhirnya mengarah pada eksploitasi tubuh.

Bagi pembaca buku ini, akan menemukan lapisan di tubuh yang dekat dan slalu direpresentasikan dalam ruang, baik privat maupun publik : Wajah. wajah Bagi Sinnot adalah ruang privat dan publik. seperti merias wajah. wajah disatu sisi privat tapi disisi lain menjadi publik. tak heran jika orang berlama-lama depan cermin hanya untuk merias secantik dan setampan mungkin. dengan meminjam bahasa Aristoteles dalam risalahnya Phsiognomics, wajah menjadi cerminan mental seseorang :

“wajah, jika terlihat tembem menunjukkan kemalasan, seperti anak sapi; jika kurus kering berarti menujukkan kerajinan, dan jika tulang pipinya menonjol menunjukkan kepengecutan, analogi dengan keledai dan rusa. wajah yang kecil menunjukkan jiwa yang kerdil, seperti kucing dan kera; wajah yang besar tidak bersemangat hidup, seperti keledai dan sapi. maka dari itu wajah jangan besar atau kecil: ukuran sedang yang baik.” (Synnott, hal 126).

Catatan : * tubuh sosial adalah judul asli dari Buku Anthony Synnott

Read Full Post »

Berbagai masalah yang mendera bangsa akhir-akhir ini diperlukan sosok yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran. Sosok itu kira-kira bisa disematkan pada kaum intelektual. Sungguh banyak kaum intelektual bangsa ini, namun sangat sedikit peran dalam memecahkan masalah. Intelektual hari ini sebagian besar sibuk dibalik meja tanpa mau terlibat dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Sangat sedikit yang empati terhadap permasalahan rakyat kecil, dan miskin.

Siapa Intelektual ?

Siapa kaum intelektual itu ?. terang pemikiran Antonio Gramsci nampaknya dapat dipinjam, semua orang memiliki potensi menjadi intelektual tetapi tidak semua memiliki fungsi di dalam masyarakat. Dalam bukunya Selection from The Prison Notebooks (1971), Gramsci membagi beberapa distingsi intelektual menjadi diantaranya, intelektual tradisional, intelektual organik dan kritis.

sederhana untuk bilang bahwa intelektual tidak hanya duduk di bangku kuliah atau bergelar sarjana, master hingga profesor. Namun bagemana setiap orang membangun khayalan-khayalan tentang intelektual itu dalam mewarnai realitas sosialnya. diskursus yang panjang antara intelektual dan bukan intelektual bisa dilihat dari salah satu tulisan, diantaranya Daniel Dhakidae. Tanpa membedakan istilah “intelektual”, “cendikiawan” dan “intelegensia” (istilah ini biasa saling menggantikan), seperti Dhakidae yang lebih memilih menggunakan istilah “cendikiawan”. Bukunya tentang cendikiawan dan kekuasaan (2003) mewakili distingsi antara antara cendikawan dan bukan cendikiawan, karena sifatnya yang cair, maka term itu seperti menggoreskan garis di atas air sungai yang mengalir. Siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menghidupkan khayalan tentang dirinya sebagai bagian dari kaum cerdikiawan/intelektual.

Semua orang bisa mendaku tentang khalan-kyalan intelek dan cendekia. Orang orang ditapal batas ini memang berada dalam dilema. Dsatu kaki menghamba pada kekuasaan dan disisi lain empati pada kondisi realitasnya. Orang-orang ini ibaratnya tidak hanya asal hidup namun menciptakan lingkungan yang teratur dan nyaman. Ambiguitas peran-peran uintelektual menjadi persoalan tersendiri dalam memahami dirinya. Satu sisi dekat dengan kekuasaan tapi disisi lain ingin mendekat dan merasakan realitas dalam masyarakat.

Intelektual yang jika digolongkan dalam struktur masyarakat, maka dia bisa masuk dalam kelas menengah. Yang mencengangkan adalah kondisi kelas menengah sedang letih lesuh dalam menghadapi realitas sosial. Padahal kelas menengah adalah segolongan yang diharapkan dapat melakukan perubahan sosial (transformasi). Beberapa hal bisa saja kelas menengah (Baca : Intelektual) kemudian mengambil jarak, Pertama, kelas menengah sudah merasa mapan sehingga untuk mengurusi yang lain tidak mungkin lagi.

Kedua, kelas menengah dibelenggu oleh sistem. Belenggu ini bisa bersifat ideologis, bisa bersifat stuktural. kondisi intelektual berada dalam posisi dilematis, mencerminkan adanya kesibukan diruang-ruang kuliah dan labopratorium, yang akhirnya melahirkan intelektual “menara gading”. Tak heran jika Plato yang mencita-citakan negara ideal jika di pimpin oleh yang berbakat dan berpendidikan.

kita memang mengharap peran intelektual…

Read Full Post »

Jika Saja Filsuf Bermain Bola

Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir.

Diatas bukan cerita nyata, petandingan sepak bola antar filsuf itu hanya terjadi dalam dunia fiksi. Cerita tersebut ditulis dalam bentuk komedi satir karya Monthy Phiton tahun 1970 (dikutip ruang baca Tempo/22/06/2006). Jika pertandingan ini nyata, tentunya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik dan ditunggu-tunggu.

Satu hal yang menurut penulis petik dari cerita satir itu : sepakbola sangat dekat dengan manusia. Olah raga ini adalah bagian sejarah yang melibatkan manusia. Sejak sepak bola dikenal, dan telah mengalami metamorphosis baik dari segi aturan maupun format pertandingan (tidak lupa juga aksi anarkis supporter), namun pencinta sepak bola tidak berkurang malah bertambah sampai hari ini. Tidak ada angka pasti berapa jumlah penggemar sepak bola di jagad raya ini. Namun setiap pertandingan baik antar kampung maupun even berskala professional sepak bola selalu kebanjiran penonton.

Tidak mudah melacak asal muasal sepak bola, beberapa sumber menjelaskan bahwa sepak bola setua umur manusia, olah raga terpopuler ini hadir dalam bentuk baragam yang ditemukan hampir seluruh ruang di planet ini. Adapun anggapan lain, sepak bola berasal dari China (sepak bola tradisional), dan sepak bola modern tumbuh kembang di tanah Inggris.

***

Dalam wacana filosofis, beberapa ahli Filsafat mengatakan bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang bermain). Kemampuan bermain adalah kekhasan manusia. Dalam bermain, manusia menunjukkan eksistensinya. Ia menghadirkan totalitas diri yang nyata dalam kegembiraan, sukacita, kesedihan. Manusia yang bermain adalah manusia yang bisa meraih kemenangan, menerima penghormatan dan sorak-sorai, tetapi sekaligus pada sisi yang lain manusia yang bermain juga adalah manusia yang tidak dapat menghindarkan diri dari kekalahan, keterbatasan, kekurangan, caci maki dan hujatan. Dalam konfrontasi dua sisi kehidupan inilah manusia mengada. Dikotomi ini selalu hadir dalam sepak bola.

Sepak bola tidak hanya olah raga yang dimainkan 22 orang mengejar satu bola di lapangan. Tetapi lebih dari itu, sepak bola adalah roh, semangat dan ‘agama’ baru. Tidak salah jika salah seorang pengamat menganggap bahwa sepak bola memiliki makna yang luas. Sepak bola menjadi pengikis batas sosial, spirit, supremasi dan juga pembawa pesan damai.

Tak dapat dipungkiri Kaka, Messi, Robben, Ronaldo, Nesta dan Rooney adalah manusia-manusia yang bermain. Sosok mereka adalah ‘roh’ permainan dalam tim masing-masing. Mereka melengkapi pertandingan ala Jogabonito (permainan cantik ala brasil), total football, kick and rush dan gaya Cattenaccio Italia. Mereka menjadi aktor lapangan hijau dalam mencetak bola. Seperti kata filsuf Albert Camus, Gol adalah tujuan akhir.

Dalam sepak bola, semua bisa menjadi rumit sekaligus menegangkan. Semua tidak bisa ditebak di atas kertas. Probalitas selalu ada. Drama selalu tersaji di 90 menit. Permainan ini menyajikan tentang dunia yang mungkin dan tak mungkin, maka disinilah letaknya filosofi sepak bola.

Read Full Post »

–kapan terakhir kita mengirim surat melalui pos?

DIHAMPIR setiap penjuru mata angin Yogyakarta ada sebaris kata bertulis R.I.P [rest in peace] dibagian depan sebuah kotak orange. tiga huruf kapital itu ditulis berwarna hitam diatas cat putih sedikit emboss. letaknya yang ditepi jalan membuat kotak orange bertuliskan R.I.P itu selalu memancing banyak mata.

itulah kotak surat yang kini menjadi pajangan di tepi-tepi jalan. kotak berwarna terang itu seakan-akan menjadi pajangan dan produk masa lalu ketika surat menjadi media berkomunikasi. kini, bis atau kotak surat di tepi jalan itu, seperti halnya batu-batu nisan di pekuburan (tribunjogja/26/2/2012) yang hanya sebagai penanda (masa silam).

disini tentu melukiskan sebuah ekspresi sinisme atas per-pos-an kita. dimana teknologi informatika menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang lama. berkirim surat dengan tulisan tangan atau ketikan kemudian memasukkannya dalam kotak. kini dengan teknologi informasi menghilangkan peran-peran bis surat itu. fungsinya kini digantikan oleh gadget modern, dengan hanya beberapa klik atau tekan jari saja semua bisa terkirim secara instan. tanpa menunggu beberapa hari pula.

masalah matinya kotak pos ini tidak hanya masalah per-pos-an di Indonesia saja, di luar negeri juga mengalami nasib yang sama, seperti yang dilansir Tribun Yogya dengan mencontoh Australia, ada tawaran solusi dari pemerintahnya yang mencoba memecahkan masalah tersebut dengan menggalakkan Pencil and Paper (PnP) sebagai jalan keluar atas penurunan minat warga Australia menulis surat.

ironisnya kemudian PT. Pos seakan tidak punya cara menghidupkan kotak surat sebagai bagian sejarah per-pos-an kita, misalnya lomba menulis surat atau menghidupkan tradisi menulis surat bagi kalangan anak muda seperti “sahabat Pena” dan lain sebagainya. persoalan ini mungkin sepele namun sangat berarti menghidupkan tradisi menulis dan berkorespondensi atau bisa dijadikan wisata budaya/sejarah bagi pos Indonesia.

kondisi sekarang, pos pun memilih pragmatis dengan banyaknya melayani pengiriman logistik. ini tidak salah mengingat logika permintaan dan penawaran terhadap surat.

jika dulu untuk mengutarakan kerinduan atau berbalas pesan, seseorang harus mengirim surat dan menunggu berhari-hari (kenikmatan menunggu disitu letaknya dalam berkirim surat) kini dengan hanya beberapa kali menekan tombol pesan akan langsung terkirim. tentu pengaruh psikologis dalam menulis surat berbeda dengan menulis di handphone atau e-mail. menulis surat (baca: tulisan tangan) mencurahkan segala energi untuk menulis sebaik, seindah dan sepuitis mungkin membutuhkan energi yang banyak.

tapi apalah daya, menulis surat dan bis surat di pinggir-pinggir jalan hanya penanda masa silam yang tidak kuat melawan arus deras kemajuan teknologi yang terus berlari tunggang langgang (runway world). dan menulis pesan pun direduksi dengan kemajuan teknologi. dan kini untuk bisa melihat masa romantisme mengirim surat? agaknya tidak sulit menemukannya di pinggir-pinggir jalan. Ya, kotak orange itu!

Kotak Surat, Requem aeternam, beristirahatlah engkau dengan tenang.

—-

selamat berakhir pekan, adakah sahabat juga merasakan hal yang sama?

Read Full Post »

Older Posts »