Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2012

KALAU dicermati, masyarakat Indonesia kelihatannya memiliki kebiasaan berbuat sesuatu dengan melanggar hak orang lain atau hak publik tanpa pernah merasa
bersalah. Meskipun setiap hari mereka selalu berdoa dan mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahannya, akan tetapi kelihatan rasa bersalah itu tidak begitu
penting terhadap sesama. Misalnya dalam berbagai kasus korupsi, koruptor tak pernah merasa bersalah atas tindakannya yang merugikan kepentingan publik. Demikian pula berbagai peristiwa sehari-hari, bagaimana orang mengambil haknya orang lain, seperti orang yang seharusnya tak berhak mendapat bantuan sosial,
tak segan segan untuk meminta, akibatnya orang yang seharusnya berhak menjadi tidak mendapatkan hak bantuan tersebut.

Dalam konteks kehutanan, blandong merupakan bentuk pencurian kayu yang bukan menjadi haknya menurut tata hukum positif yang berlaku. Di kota, ketika ada orang kecelakaan, orang tidak berusaha mengamankan barang milik korban akan tetapi malah menjarah milik korban. Ini menarik, pertanyaannya apakah masyarakat memiliki karakter nyolong atau memang mereka tidak mengerti apakah perbuatannya itu keliru karena melanggar haknya orang lain. Artinya apakah masyarakat memang memiliki karakter tak bermoral atau memang mereka tidak pernah mengerti bagaimana bermoral itu? Kebiasaan ini pada umumnya dilakukan oleh sebagian besar orang, lepas apapun statusnya, apakah mereka pejabat negara sampai dengan para pedagang dan masyarakat di lapisan bawah. Bagaimana hal itu bisa dijelaskan dan apa implikasinya terhadap perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara?

Masyarakat awal, yang hidupnya berburu dan meramu sampai dengan masyarakat subsisten, pola berproduksi untuk memenuhi kebutuhan hidup mengandalkan apa yang telah disediakan oleh alam. Apa yang tersedia dalam alam diambil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada tingkatan subsistensi telah terjadi perubahan, manusia tidak hanya sekadar mengambil apa yang ada akan tetapi berbudi daya seperti bercocok tanam sehingga akumulasi pengetahuan lokal menjadi kekayaan, tidak hanya sekadar materi yang disediakan alam. Perkembangan ini masih berorientasi kebutuhan sendiri dalam pengertian komunalitasnya. Tahap perkembangan masyarakat berikutnya, karakter berproduksinya telah berubah, berproduksi bukan untuk kepentingan diri dan komunalitasnya untuk kepentingan publik melalui berlangsungnya ekonomi uang. Karakter masyarakat telah berubah juga dari sikap utama kepentingan komunalitas ke sikap kemenonjolan kepentingan individu.

Pada umumnya Bangsa Indonesia merasa tidak mempunyai kesulitan untuk mengambil kebutuhan hidup dari alam sebab mereka merasa bahwa alamnya cukup subur. Apa saja telah diberikan Tuhan untuk penduduknya, segala sesuatu tinggal mengambil dari alam. Pembangunan yang mengajak pada proses perubahan menuju kebudayaan teknologi dan komersialisasi tidak banyak menggeser budaya mengambil, bahkan berlangsung hingga kini. Persoalannya, alam yang menyediakan kesuburan diganti oleh negara yang menyediakan anggaran yang berlimpah, baik dari hasil sendiri maupun diperoleh karena utang. Sekali lagi anggaran yang berlimpah bukan karena kerja keras dan bukan uang sebagai alat kerja akan tetapi lebih banyak uang sebagai alat konsumsi sebagaimana tercermin dalam budaya mengambil dari alam. Negara dan anggaran yang tersedia identik dengan alam yang subur, milik semua orang yang disediakan oleh Tuhan.

Karenanya, moral menjadi absen sebab orang merasa tidak bersalah jika melanggar hak yang bukan menjadi haknya. Sungguh pun mereka mengerti mengambil barang orang (nyolong) itu salah, akan tetapi negara dianggap bukan orang sehingga mengambil miliknya negara menjadi tidak termasuk kategori nyolong. Budaya mengambil menjadi problematik dalam peradaban modern ketika moral lebih banyak dilihat dari seberapa jauh pelanggaran terhadap hak orang dan organisasi besar seperti negara. Salah satu contoh, pembangunan ruangan Banggar di DPR yang luasnya 300 m2 dengan biaya Rp 20 miliar itu hanya perkembangan teknik nyolong karena ada aturan administrasi keuangan. Menariknya, semua orang yang kemungkinan terlibat saling melempar untuk mengaku dirinya bersih. Jika tidak ada tata kelola baru yang tegas dalam mengelola negara, kultur nyolong akan menjadi spirit untuk mencapai sukses dalam hidup.

Sungguh pun orang yang mengenyam pendidikan tinggi semakin banyak, orang yang naik haji semakin bertambah banyak, orang pergi ke gereja semakin banyak pula. Kurang apa lagi? Demokrasi juga menjadi warna kehidupan, hal ini tetap tidak menjawab persoalan moral bahkan mempertebal tak bermoral. Ini tantangan, perubahan macam apa yang harus direnungkan bersama.
(Penulis adalah Ketua Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fisipol UGM, Staf Peneliti Senior Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan, Ketua Komite Kemanusiaan Yogyakarta (KKY)-b

Selamat Datang di Kedaulatan Rakyat Online
http://www.kr.co.id

Read Full Post »

Saut situmorang, studi tentang paskalonialisme punya teori dasarnya yaitu critical teori, critical term misalnya isu2 kolonialisme, hibriditas, identitas, mimikri dalam konteks studi itu. disebut pascakolonialisme karena dulu ada studi tentang kolonialisme, wacana kolonial (colonial discource) yang membicarakan segala sesuatu tek2 jaman2 kolonial. Pasca kolonialisme membicarakan negara2 yang sudah merdeka dalam tanda kutip efeke2nya makanya ada mimikri ada identitas frans fanon judul bukunya itu black skin white mask kulitnya hitam tapi topeng putih. Topeng2 inilah pascakolonial, kita orang timur tapi kita menonton film hollywood, mendengar musik barat. Kita di indonesia ini fakir tapi mendengar memakan makanan barat. Inilah disebut indetitas baru disebut mimikri.

Kolonialisme tidak melulu kesalahan penjajah, penjajahan tidak terjadi kalo tidak ada kolaborasi dari elit lokalnya dalam wacana kaum nasionalis selalu membicarakan pahlawan nasional tidak pernah membicarakan penghianat nasional. Studi tentang pasca kolonialisme ini yang diangkat penghianat nasional sangat penting posisinya seperti pahlawan nasional posisinya berbeda tapi dia ada dan sangat penting tanpa ada mereka tidak ada kolonialisme. Contohnya Minke adalah contoh mimikri yang dimasukkan dalam sekolah barat semua barat, karena ia ingin diterima dia harus meniru (mimik) bahkan namanya yang sebenarnya makian (monkey) dia ambil juga, kita tidak tau nama minke sebenarnya, minke dari monkey dia ambil karena dianggap eksotis tapi terjadi disitu transfer politik kalo dalam taichi kita ambil kemudian menghantam dia, kalo mau diliat bahwa makian itu bisa jadi respon balik tanpa ditahu apalagi menggoyang narasi besar, dia kan menjadi pahlawan nasional karena indonesia merdeka jika tidak merdeka pahlawan itu disebut korban tawuran lawan belanda hahahhaha…itu pascakolonial banget, kebetulan kita merdeka. Mana belanda mengakui 17 agustus 1945 itu kan? Peristiwa 1949 sampe sekarang gak ngakuin…

———–

catatan ini saya narasikan dari obrobal Saut Situmorang dalam Radio Buku Yogyakarta.

Read Full Post »