Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2011

Mengampuni

Mengampuni

–memaafkan berkenaan dengan tindakan yang tak dapat dibatalkan di masa lampau, sedangkan berjanji berkenaan dengan tindakan yang tak dapat diduga di masa depan. dua-duanya tersedia secara serentak di dalam diri manusia (Hannah Arendt).

Memiriskannya karena kisah manusia tak seperti teks di komputer yang bisa dihapus kapan saja. semau kita, dan mengembalikan menjadi nol. setelah itu kembali kesedia kala.

tapi manusia tidak. ketika seseorang tersakiti, yang tinggal puing/sisa kesesalan yang membekas. susah untuk termaafkan. ibarat gedung yang pernah runtuh, membangunnya tak akan kembali seperti sedia kala. rapuh dan retak tak bisa dihindari.

saya banyak melakukan kesalahan itu di waktu yang silam, anehnya, saya hanya selalu berlindung dibalik penjelasan klise tak ada manusia sempurna atau setiap mahluk bernama manusia tak lepas dari salah dan dosa . betapa naifnya saya.

tapi ada cara yang membuat saya dimaafkan; pengampunan. tapi apa bisa?. ketika tuhan mau mengampuni mengapa manusia tidak?. ya, manusia kadang tak mau memaafkan jika sisi banalitas menjelma pada hati yang rapuh dan sering mendengki. saya pikir saya melakukan kejahatan pada beberapa orang yang pernah saya sakiti secara fisik maupun psikis. dan itu kedangkalan saya sebagai manusia.

mengampuni ini saya teringat Hannah Arendt, Filsuf cantik itu, ia berkata bahwa cara menghapus kesalahan adalah dengan MENGAMPUNI. tapi bagaimana bisa saya mau mengampuni atau diampuni dengan kesalahan yang hampir sama dengan sebuah kejahatan?. tidak ada jalan lain, harus ada ampunan. Arendt mencoba berpesan, setiap kesalahan ada obat yang bisa menyelamatkan, yakni kemampuan manusia memaafkan disatu pihak, dan kemampuan berjanji di lain pihak.

segenap pengalaman ini membuat saya berpikir untuk melupakan ingatan kesalahan. walau yang saya sakiti itu menolak lupa. tapi Arendt selalu mengajarkan sebuah cara yang lain untuk memaafkan.

saya berjanji yang menjadikannya kepastian dari tindakan saya yang tidak diduga. maafkan dan ampunkan setiap salah.

ini janji…

“persahabatanlah yang menjadi dasar kemanusiaan kita“, kata Sindhunata

Read Full Post »

Punakawan

WAYANG selalu mengarah pada epos Mahabrata dan Ramayana. yang yadir kemudian adalah kisah heroik PANDAWA atau cerita cinta RAMA-SHINTA.

namun ada pengecualian yang hadir; PUNAKAWAN-teryata menjadi sumber ilham. tokoh dalam lakon wayang ini hampir luput dari narasi besar dan terkadang peran dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong-bahwa ia tak sekedar melengkapi cerita jagat wayang namun menjadi pelipur lara dengan tawa dan sentilan.

saya tidak tahu pasti kapan menyukai wayang, yang saya tahu sejak SD telah disuguhi tontonan seperti itu baik dalam bentuk wayang orang maupun wayang kulit, (satu hal lagi permainan wayang bermerek gunung kelud). sejak itu saya tertinggal jauh dan tak lagi mengingatnya dan semua cerita yang melekat. Bukan tak mungkin, lakon dan bahasa yang jawasentris membuat itu berjarak.

itu dulu, saya baru mengetahui epos ini ketika menyaksikan secara live wayang di alun-alun. sosok dan cerita akhirnya saya tangkap walau tak mendalam. saya memang lebih suka membaca wayang yang selalu menampilkan ksatria pandawa lima, setting perang BharataYudha. atau cerita cinta Rama-Shinta. tak pernah berfikir menyukai Punakawan.

pertujukan wayang live di Jogja menjelang dinihari di alun-alun itu akhirnya memberi saya sebuah pelajaran berharga tentang wayang, terlebih sosok Punawakan. Punakawan tidak saja melengkapi namun ia harus ada. jika saja punawakan tak ada, cerita yang tersaji hanya ada kisah heroik dari Pandawa dalam perang Barathayuda. punawakan yang tukang cerita itu sangat berasa dengan sentilan dan petuah-petuah bijaknya.

saya mendapat jawaban dimalam itu dan tak lupa menambahkannya dalam buku-buku.wayang adalah bagian kehidupan Jawa, pemahaman bodoh saya bahwa kisah wayang lebih dekat dengan kehidupan orang Jogja atau orang Solo. wayang adalah sumber ilham bagi kehidupan orang Jogja, Frans Magnis Suseno bahkan menulis “wayang dan Keseharian kita” juga “Etika Jawa” yang mengambil saripati kearifan wayang. tak ayal Ben Anderson, indonesianis menulis “Kuasa kata” juga banyak mendapat ilham dari cerita pewayangan.

ini bukan omongkosong belaka, ketika pikiran tertuju epos mahabrata dan ramayana,maka itu adalah epos besar Hindu yang dihadirkan dalam wayang yang bertahan lama dari lapuknya waktu. wayang pun mengalami keselarasan dalam kehidupan alam jawa.

dimana Punawakan?. ia ada dan menjadi penghibur lara bagi yang duka. ia Sang Penghibur dengan sentilan dan candaan yang membuat tawa selalu renyah. bahkan membuat dada sesak menahan tawa.
Ya, dalam tawa sesungguhnya tersimpan pelbagai rahasia hidup manusia. ketika manusia tertawa, itulah saat dimana “surga sedang menyentuh hatinya”. kita perlu tertawa supaya kita bisa menjadi bijaksana. -Sindhunata
ia tak bisa hilang dalam lakon, parasnya lucu. saya hampir menyamakannya dengan badut, dengan tampilan wajah pucat pasih, bergincu yang merahnya melewati bibir. Dari tampilan saja sudah membuat orang tertawa.

siapa nyana jika mereka adalah sumber ilham? saya tidak tahu, namun yang mengenal epos dan punawakan bisa memberi jawaban. saya biasanya mencari jawab dalam tulisan Sindhunata. saya menyukainya sepenuh hati. tulisan Sindhu ini memang slalu dekat dengan dunia wayang, atau lakon wong cilik atau Goenawan Mohamad juga cerita-cerita lepas orang Jogja di angkringan.

punawakan mengajak orang tertawa: tertawa dalam duka, tertawa atas ketololan hidup juga tertawa dalam keterbatasan.

walau kita tahu punawakan adalah narasi kecil, ia akar rumput. bagi orang kecil tertawa adalah kehidupan sehari-hari sebagai obat panjang umur. orang kecil yang saya tau adalah tempatnya menampung tawa. ia ditertawai karena pakaian, tampang dan hidupnya. tapi disitulah hebatnya yang ditertawai.

entah mengapa ada peran itu dalam wayang, padahal yang saya tahu wayang adalah kisah-kisah heroik, Rama atau Pandawa yang begitu dikagumi. Ternyata saya salah, wayang tidak saja menawarkan sosok ksatria dalam diri Pandawa : Khrisna, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa atau percintaan Rama dan Shinta. wayang juga memberi tempat terhormat untuk sosok yang selalu memberi tawa ini: punawakan.

Dengan inipun saya tak bisa mengelak membaca wayang purwa dan babad tanah jawi, dan tak juga bisa berpaling dari epos i lagaligo.

saya akan membaca epos itu sebagai bahan cerita untuk generasiku kelak: ya, sekedar ‘tamasya’ pengetahuan.

Read Full Post »