Feeds:
Posts
Comments

Beberapa hari lalu di media cetak dan elektronik ramai-ramai memberitakan kehidupan Miranda yang merawat ayahnya yang sakit di rumahnya yang terletak di ujung barat kota Kendari. Miranda, bocah yang kekurangan mental itu harus keluar dari sekolah demi merawat ayahnya yang lumpuh. Pilihannya sederhana lebih memilih merawat orang tua walaupun putus sekolah sebagai taruhannya. gadis kecil itu—selayaknya bermain dan membaca di sekolah—harus menanggung beratnya beban keluarga. Cerita tentang Miranda menjadi inspirasi sekaligus tragedi kehidupan bagi masyarakat kecil.

Rumah keluarga Miranda hanya beberapa kilo meter dari pusat pemerintahan baik provinsi maupun kota. Tapi yang lebih banyak bersuara adalah media. Lalu kita bertanya di mana pemerintah selama ini? Idealnya pemerintahlah yang harus lebih dulu tanggap dan menyuarakan permasalahan sekaligus mencari solusi. Alih-alih memerankan sebagai penjaga rasa aman masyarakat, pemerintah kadang tak pernah terasa keberadaanya. Dari sini kita bertanya buat apa mengamanahkan mereka jika abai terhadap rakyatnya? Saya jadi ingat dalam sebuah tulisan sebuah kolom bahwa jika berhubungan dengan pemerintah maka yang banyak adalah pertanyaan dan sedikit mendapat jawaban. Demikian pula kisah ‘pembiaran’ kehidupan Miranda dan ayahnya. Kita hanya lebih banyak pertanyaan dari pada mendapat jawaban.

Mirisnya kiranya ketika pemerintah kita hidup di atas kemewahan dan previlese lainnya dari fasilitas negara membiarkan rakyatnya hidup dalam penderitaan. Tapi ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu. Pemerintah kita tak mau ambil pusing. Kita telah banyak menonton teve, membaca koran, dan informasi dari tetangga tentang orang miskin yang mati kelaparan di antara bangunan megah miliki orang kaya. Kita juga sering menonton keluarga busung lapar di tengah lingkungan orang kaya dan kita menyaksikan banyak golongan minoritas dirampas haknya.

Namun penderitaan rakyat kecil tak membuat pemimpin iba. Lalu kita merindukan sosok yang dirindukan rakyat. Agaknya kita bisa berpaling ke walikota terbaik dunia 2014 Risma yang ikut membagikan masker kepada warga yang terkena musibah gunung Kelud, menangis melihat perempuan PSK yang berusia 60-an di lokalisasi Dolly yang masih ‘melayani’ usia remaja atau bahkan risma ikut memikul kayu bersama stafnya yang sedang kerja bakti. Sekarang kita dapat menemukan pemimpin yang bisa empati terhadap masalah rakyatnya. Ada tapi hanya sedikit.

Kondisi inipun berbeda dalam kehidupan keluarga Miranda bantuan lebih banyak mengalir dari donator (masyarakat sipil) dan pemerintah kita malah lempar tanggung jawab dengan alasan dana operasional relatife kecil (kendari pos 1/3/2014). Itulah kiranya mengharapkan lebih banyak pada pemerintah ibarat punguk merindukan bulan. Jauh dari harapan. Kalaupun ada bantuan akan dipolitisir.

Kisah Miranda adalah puncak gunung es. Masih banyak banyak kasus serupa yang tidak tertangani dengan baik oleh pemerintah tetapi mendapat perhatian dari masyarakat sipil. Kiranya pemerintah kita mawas diri tentang perannya selama ini.
Jaman sekarang bukan lagi sistem feudal di mana pemerintah di junjung dan digugu seperti dewa yang dilayani. Tapi pemerintah yang turun melayani dan merasakan pahit getirnya kehidupan masyarakat kecil seperti kisah hidup Miranda.

kuliah online dari Bli Andi Arsana

a madeandi's life

Kuliah MG di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM

Jika Anda dosen, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tugas selain mengajar kadang jauh lebih banyak jumlahnya. Selain urusan administrasi seperti BKD, SIPKD, SKP, dan singkatan-singkatan lain yang kadang membingungkan, ada juga tugas lain untuk memikirkan negara. Tidak jarang, seorang dosen diundang satu kementerian untuk dimintai pendapat. Bagi dosen yang berdomisili di luar Jakarta, panggilan-panggilan dan tugas non akademik ini kadang menyita lebih banyak waktu. Perjalanan pulang pergi ke Jakarta dari Jogja, misalnya, akan memakan waktu setidaknya sehari. Akibatnya, tugas mengajar di kampus bisa terabaikan.

Sebenarnya pilihannya bisa sederha yaitu dosen menolak undangan kementerian atau instansi tertentu dan fokus saja mengajar atau meneliti di kampus. Saya yakin ada dosen yang melakukan ini. Tidak demikian dengan saya karena berbagai pertimbangan. Sedapat mungkin undangan itu saya penuhi, terutama yang terkait erat dengan aktivitas berpikir dan melaksanakan kajian. Alasannya sederhana. Saya percaya data, informasi dan…

View original post 982 more words

Basis Literasi Demokrasi

REPUBLIKA.CO.ID: Oleh: Yudi Latif

Demokrasi tak bisa berumah di angin. Trilyunan uang terkuras, berbilang institusi tiruan dicangkokkan serta pelbagai prosedur baru digulirkan tak membuat rakyat kian berdaya secara politik. Perangkat keras demokrasi memang berhasil dipoles, tetapi perangkat lunaknya masih berjiwa tirani. Demokrasi berjalan dengan meninggalkan sang “demos” (rakyat jelata), seperti malin kundang yang melupakan ibunya sendiri.

Situasi demikian mengingatkan kembali sisi kegagalan demokrasi Indonesia pada dekade 1950-an. Menurut pandangan Ricklefs, kegagalan tersebut disebabkan oleh lemahnya fondasi demokrasi. ”Di sebuah negara yang masih ditandai oleh tingginya tingkat buta huruf, rendahnya pendidikan, buruknya kondisi ekonomi, lebarnya kesenjangan sosial, dan mentalitas otoritarian, wilayah politik masih merupakan hak istimewa milik sekelompok kecil elite politisi.”

Hal ini mengindikasikan bahwa reformasi sosial tidak akan pernah muncul hanya mengandalkan reformasi kelembagaan politik dan ekonomi, melainkan perlu mengakar ke bumi reformasi budaya. Reformasi budaya merupakan fungsi dari perubahan proses belajar sosial secara kolektif, yang membawa transformasi tata nilai, ide dan jalan hidup. Dalam hal ini, terasa penting untuk memperhatikan jalinan erat antara budaya, politik
dan ekonomi, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Seperti dingatkan oleh Anthony Giddens (1984), “Konsep budaya kita bersifat interaktif. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa alih-alih terpisah dari wilayah ekonomi, politik dan masyarakat, budaya merupakan medium pembentukan makna yang berinteraksi dengan kekuatan-kekuatan lainnya dalam mempengaruhi semua bidang kehidupan, termasuk politik dan ekonomi.”

Budaya demokrasi mengandaikan adanya empati dan partisipasi; yakni kesanggupan untuk memahami dan menempatkan diri dalam situasi orang lain, yang menjadi anjakan bagi kesediaan berperan aktif dalam penyelesaian masalah-masalah kolektif. Kemampuan empati dan partisipasi ini bisa ditumbuhkan oleh kekuatan literasi (Lerner, 1958).

Dunia kelisanan adalah dunia pemusatan yang mengarah pada elitisme. Dalam tradisi kelisanan hanya ada sedikit orang yang memiliki akses terhadap sumber informasi. Kelangkaan ini menganugerahkan privilese khusus kepada sedikit elit yang membuatnya dominan secara politik. Adapun dunia keberaksaraan adalah dunia penyebaran. Perluasan kemampuan literasi dan jumlah bacaan mendorong desentralisasi penguasaan pengetahuan. Desentralisasi ini secara perlahan memerosotkan nilai sakral elitisme seraya memperkuat egalitarianisme.

Elitisme mengadung mentalitas narsistik yang berpusat pada diri sendiri, tanpa empati dan kesungguhan mengajak partisipasi. Egalitarianisme mengadung kepekaan akan kesedarajatan hak, oleh karenanya berusaha mencegah timbulnya dominasi dengan menggalakan partisipasi.

Tak heran, dalam negeri dengan tradisi literasi yang kuatlah demokrasi bisa tumbuh dengan kuat. Athena (Yunani) sering dirujuk sebagai ”ibu demokrasi” karena berakar pada tradisi literasi yang kuat, berkat penemuan alfabet. Peradaban Yunani dan Romawi adalah yang pertama di muka bumi yang berdiri di atas aktivitas baca-tulis masyarakat; pertama kali diperlengkapi dengan sarana-sarana berekspresi yang memadai dalam dunia tulis; pertama kali mampu menempatkan dunia tulis dalam sirkulasi umum (Havelock, 1982). Revolusi demokratik terjadi di Perancis (1848), tidak di Inggris sebagai pelopor revolusi industri, karena Perancis (Paris) saat itu merupakan masyarakat dengan tingkat literasi yang paling tinggi di Eropa (Rude, 1970).

Gambaran paling nyata dari demokrasi Barat kontemporer terletak pada derajat literasinya yang tinggi. Secara umum dipercaya bahwa naiknya tingkat literasi masyarakat mengarah pada kemunculan institusi-insitusi sosial yang rasional dan demokratis; juga pada perkembangan industrial serta pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, kemunduran dalam tingkat literasi menimbulkan ancaman terhadap kemajuan dan demokrasi.

Kalangan sejarawan mencoba melukiskan secara spesifik tentang relasi antara literasi dan perkembangan sosial di Barat. Cipolla (1969) menemukan bahwa kendatipun pola sejarah tidaklah seragam, ‘tampak jelas bahwa seni menulis secara nyata dan tegas berkaitan dengan kondisi urbanisasi dan hubungan komersial.” Korelasi ini menarik kesimpulan bahwa literasi merupakan sebab pembangunan, suatu pandangan yang mendorong komitmen UNESCO untuk “melenyapkan iliterasi” pada tahun 2000 sebagai katalis bagi modernisasi (Graff, 1986).

Tingkat keberaksaraan dan keluasan erudisi masyarakat, khususnya di Indonesia, saat ini mendapatkan ancaman dari berbagai penjuru. Ancaman pertama datang dari “vokasionalisme baru” (new vocationalism), yakni suatu konsepsi utilitarian dari lembaga-lembaga pendidikan yang menekankan keterampilan teknis. Dalam arus ini, pengajaran bahasa mengabaikan dimensi kesasteraan, seraya memberi perhatian yang berlebihan pada pengajaran tata-bahasa dalam disiplin keilmuan dan kejuruan yang spesifik.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut Frank Furedi (2006) sebagai ”the cult of philistinism”, pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes material dan praktis. Universitas dan lembaga pendidikan lainnya sebagai benteng kedalaman ilmu mengalami proses peluluhan kegairahan intelektual, tergerus oleh dominasi etos manajerialisme dan instrumentalisme; suatu etos yang menghargai seni, budaya dan pendidikan sejauh yang menyedikan instrumen untuk melayani tujuan-tujuan praktis. Orang-orang yang membaca kesusateraan dan mengobarkan kegairahan intelektual berisiko dicap sebagai ’’elitis’, ’tak membumi’, dan ’marjinal’. Kedalaman ilmu dan wawasan kemanusiaan dihindari, kedangkalan dirayakan.

Ancaman kedua, berupa terpaan mendalam dan meluas dari multimedia, khususnya televisi. Selain biasnya terhadap kelisanan, kemaharajalelaannya di tanah air, saat tradisi literasi rapuh dan kesasteraan dimarjinalkan, memberi penguatan terhadap budaya kedangkalan seraya melemahkan fungsi-fungsi keberaksaraan.

Tekanan pada utilitarianisme dalam kelemahan tradisi literasi dan erudisi memberi ketimpangan pada kehidupan publik. Jagad politik dibanjiri politisi-tukang, dengan kelangkaan politisi-intelektual. Demokrasi yang mensyaratkan meritokrasi didarahi oleh mediokrasi, yang melumpuhkan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian
nasional.

Demokrasi harus berakar di bumi. Demokrasi hanya bisa tumbuh subur jika tersedia basis literasi. Saatnya memuliakan keberaksaraan!

Red: Maman Sudiaman

Berburu beasiswa ala Bli Made Andi

a madeandi's life

Saya diundang oleh Berita Satu TV untuk dialog soal meraih beasiswa luar negeri. Silakan simak siaran ulangnya lewat Youtube berikut ini.

View original post

Hari ini 13 Mei 2013 saya memulai kembali mimpi yang telah lama saya rajut: belajar ke luar negeri.

Dan saya pun kembali menghidupkan semangat belajar yang hampir habis itu. jika semasa kuliah semangat belajar tergolong tinggi tapi entah, beberapa bulan ini malas belajar yang apalagi berbau bahasa Inggris.

Kesalahan pertama: tidak terbiasa mendengar, membaca dan bercakap bahasa Inggris.

Singkat cerita, kesalahan pertama itu saya sadari dan mencoba bangkit dari kemalasan belajar bahasa inggris. Membuka website VOA, dan buku-buku teks Inggris kembali menemani keseharian saya. Kebiasaan yang pernah saya lakukan ketika kuliah di pascasarjana UGM Yogyakarta.

Setelah beberapa hari membaca, saya kemudian bercakap dengan adik ipar saya yang kebetulan sudah mahir, baik bercakap, menulis, dan membaca dalam bahasa Inggris. Dengan bekal nekat, yang tentu saja harus menghilangkan rasa malu sebagai seorang kakak ataupun yang lebih tua bertanya pada yang lebih muda. Sedikit info saja, adik ipar saya dia nilai skor Toefl mencapai 580. Berbeda dengan saja yang tidak cukup 500 (bisa dibayangkan dibawah nilai skor seperti itu).

Kesalahan kedua: penyakit intelektual yang telah merasa hebat dan lebih tua adalah : angkuh dan merasa hebat.

Adik ipar saya akhirnya mau meladeni saya, dengan kesabarannya ia menyimak dan memberikan masukan. Saya akhirnya menyadari betapa ‘hancurnya’ bahasa Inggris saya. But its okey, the show must go on (memakai istilah ini biar dibilang tidak hancur banget :D). adik ipar saya mengoreksi dan memberikan tips agar lebih cepat dalam meningkatkan belajar tanpa harus kursus (mengingat kursus Bahasa Inggris di Kendari mahal). Dia lantas menyarankan sering membaca berita BBC, the Jakarta Post dan mendengar berita luar negeri yang berbahasa inggris.

Dengan modal tablet Samsung Galaxy milik sang istri, saya pun mengunduh podcast BBC, VOA. Beberapa dari itu saya rasa cukup untuk bisa dijadikan acuan belajar. Langkah ini saya lakukan dari pengalaman belajar adik ipar saya. Katanya setelah lulus kuliah S1 di Semarang, bahasa Inggris yang ia tahu hanya “yes” dan “no”. Kita sudah pasti tahu dia sedang bercanda untuk membesarkan hati saya. Dia membutuhkan tiga bulan membaca tiap hari minimal dua artikel dan hasilnya? Poin 580.

Saat ini saya melatih diri dengan membaca satu artikel setiap hari dari BBC atau VOA dan akan saya lihat hasilnya satu, dua, tiga atau setahun lagi atau…

Selain itu untuk menambah semangat belajar keluar negeri tak lupa menyempatkan singgah di blog Bli  Made Andi Arsana: http://madeandi.com/ dan Kanda Yusran Darmawan: http://www.timur-angin.com/ dari mereka saya merawat mimpi keluar negeri.

12 Juni 2012

TANGGAL 12 JUNI 2012 saya anggap moment terbaik. Pertama. saya menyandang gelar Master of Art (MA) dari salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kedua, hari itu berlangsung ujian tesis saya dengan judul Dominasi Simbolik Karaeng. Perjuangan mempertahankan hasil karya ilmiah di depan dewan penguji. Setelah melewati ujian dalam ruangan ber AC(namun membuat keringatan) itu saya lalui dengan baik ditambah catatan: lulus minor dan sangat memuaskan.

Memasuki ruangan ujian dengan sikap spartan toh tidak membuat jantung saya berhenti berdetak kencang…dag dig dug, dag dig dug. serasa mau copot. perasaan bercampur aduk. dalam pikiran saya saat itu hanya ada dua yang ada dalam pikiran saya itu. Master dan penelitian ulang. kampus disini juga terkenal dengan tradisi kritisnya. dan itu yang membuat saya tak henti2nya berfikir.

Namun, ternyata saat presentasi saya yang singkat dan tepat waktu itu mendapat tanggapan positif. maklum, wacana tesis saya agak tertutup dari narasi besar nasional, hanya lingkup lokal yang hanya sebagian kecil mau mendalaminya. tapi tak apa. narasi kecil itu ternyata membuat penguji saya tak henti2nya memberi semangat dan pujian.

Ada yang penting tentang tesis saya, gaya menulis yang dianggap mengalir (untuk itu saya berutang budi sama Kanda Yusran Darmawan) dan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang memberi refleksi tentang menulis. berdosa rasanya tak menyebut guru kebaikan kanda Syamsul ‘utu’ Anam Ilahi. saya menikmati proses kebersamaan saya di kos 882 dan Pogung :). tanpa saran dia, tesis ini tak jadi saya angkat. Saya tak lupa pula terimakasih saya para Blogger, Pejalan jauh, Hamzah Palolloi, Syam, Meyke, Lispa Bun2, Kang Zen-Pejalan Jauh, Ndoro Kakung. tulisan2 mereke adalah inspirasi buat saya.

Sanjungan berikutnya, dialamatkan pada data yang lumayan berlimpah, untuk itu saya berutang lagi sama Firmansyah, SH, aktivis Pattiro Jeka dan kanda Rusman Ummang untuk penelitian terdahulunya. terlalu banyak data yang diberikan membuat saya pusing untuk menuliskannya :).

Doa kedua orang tua dan keluarga saya, Amma’ saya menelpon di pagi buta: “lulus jako itu nak”. dan memang lulus. setiap keberhasilan anak, dibelakangnya selalu ada IBU. tanpa mengecilkan peran Tetta saya. Amma’ saya memang pribadi yang mengagumkan. dan itu kewajiban seorang IBU, mendoakan anaknya…sudah takut kualat sama Tetta :).

Tak elok jika tak menyebutkan peran perempuan satu ini (karena bisa2 dia ngambek :D). Non Akhmad yang menerima kelebihan dan kekurangan saya. saya bersyukur mengenal gadis Arab-Bugis itu, singkat tapi serasa dekat. ini seperti lirik lagu Savage Garden: I knew I loved you before I met you…saya menemukanmu. Semoga kita bisa dihimpun dalam satu keluarga utuh, tapi itu jika kau mau…

Akhirnya. Saya yang menikmati proses hasil karya itu mendapatkan masukan dan respon yang simpatik dari dewan penguji. sahabat dan orang terdekat saya. bagi penguji, tesis saya dianggap memuaskan dan jika koherensi antara teori, metodologi diramu sedikit maka layak terbit jadi buku. saya tak bisa berkata-kata ketika penguji menyanjung tesis saya itu. dan untuk orang terdekat saya, ucapan mereka adalah motivasi untuk lebih maju lagi. bagi yang saya tahu maupun tidak tahu, ucapan selamat mereka seperti doa yang tak putus-putusnya. terimakasih.

Di UGM, Kampus Biru dan Yogyakarta ini saya banyak membaca dan menulis blog. terimakasih ALLAH. tempat ini memang salah satu tempat ternyaman. sampai hari ini, saya belum mau berhenti menulis. semoga saja

Bulaksumur, Yogyakarta, di Juni yang kering tahun 2012